BERITA

Manokwari – Jika di taman-taman Jakarta tertulis papan Dilarang Menginjak Rumput atau Dilarang Buang Sampah, maka di Manokwari, Papua Barat, tidak ada papan serupa. Yang ada, malah papan bertuliskan Dilarang Meludah. Papan tersebut dipasang dari Kantor Gubernur hingga hotel berbintang atau kelas melati.

Bagi masyarakat Papua, memakan buah pinang (dalam masyarakat Jawa disebut nginang) merupakan kebiasaan dari kecil. Menginjak usia 10 tahunan, anak-anak terbiasa memakan buah pinang, baik yang masih hijau atau telah masak (merah).

Kebiasaan ini membuat reporter detikcom Andi Saputra yang saat itu tengah meliput musibah gempa, tertarik mencobanya. Menurut salah seorang pendatang, Rio, 28, warga Manokwari, ada trik khusus supaya pinang tidak terasa masam di lidah. Pertama, gigitan sabut buah pinang pertama kali langsung dibuang. Gigitan sabut pinang kedua, langsung di kunyah. “Saat itu juga langsung makan dahan pohon sirih yang telah dicolokin ke bubuk kapur,” ujar Rio menerangkan.

Pada kunyahan itu, air ludah langsung ditelan supaya menghindari rasa getir. Dan setelah itu, sisa buah pinang langsung dikunyah yang disusul dengan dahan sirih serta bubuk kapur. “Kalau di Jawa, pakainya daun sirih ditambah tembakau, ” tambahnya.

Tidak sampai lima menit, campuran pinang itu pun menjadi merah menyala memenuhi mulut. Di situlah mulai meludah-ludah meskipun rasanya telah berubah menjadi manis. “Kalau masyarakat sini, meludah di sembarang tempat. Makannya ada papan larangan meludah,” ujarnya seraya mengunyah pinang.

Kebiasaan ini bukan tanpa alasan. Bagi masyarakat Papua, kebiasaan ini guna kesehatan gigi. Selain itu, juga menjadi antibiotik. Terlebih, kehidupan mereka yang menyatu dengan alam mengharuskan badan dalam kondisi fit dan sehat. Bahkan, ada rumor, orang Papua bisa hidup cukup dengan pinang dan umbi-umbian.

“Selain itu, apabila orang luar ingin cepat akrab dengan warga asli, menginanglah. Pasti masyarakat Papua cepat menerima dan terbuka,” pungkasnya.

Sayang, meski detikcom mencoba berkali-kali, tak satu pun buah pinang yang berhasil ditelan. Bukannya tak mau bersahabat dengan Papua tapi memang rasanya….hiks….asamnya….(asp/nrl)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s