‘Tinjauan Sintak-Semantik Buletin Al-Arkhabi:L ‘ ( LIPIA Jakarta)

Kerangka Teori

1.) Pengantar

Dalam skripsi ini peneliti membahas tentang analisis Buletin terjemahan “ Al-Arkhabi;l” sebuah  media cetak dua bahasa yaitu bahasa arab dan Indonesia  yang diterbitkan  oleh  LIPIA  Jakarta.  dalam skripsi ini juga, peneliti memfokuskan penelitiannya terhadap tinjauan dan analisis Sintak-semantik buletin tersebut. Landasan teori  yang digunakan dalam proses penerjemahan ini  terdiri dari landasan  utama dan pendukung. Dalam hal ini toeri yang digunakan secara khusus adalah  Teori  jurnalistik karena buletin Al-arkhabi:L  sebagai salah satu karya jurnalistik.

2.) Proses Penerjemahan

Penerjemahan  berarti   mengganti  teks bahasa sumber dengan teks bahasa sasaran, selain itu juga penerjemahan berfungsi untuk membatasi makna yang ingin disampaikan dari Bahasa sumber (Bsu) ke Bahasa sasaran (Bsa)

Menuru t Khalusi (1986) proses penerjemahan dapat ditinjau dari dua pendapat, yaitu :

1.                  Menurut Ibn Bathri Q yaitu  dari lughah minhu  (                                        )  memaknainya kedalam lughah Ilahi (                            )

2.                  Menurut Hunaih Ibn Ishaq  yaitu  dengan membaca keseluruhan  dahulu  teks Bsu (bahasa Sumber), kemudian  dipahami makna dan kalimat tersebut untuk diterjemahkan kedalam kalimat Bsa (Bahasa Sasaran/lughah ilahi).

Menurut Nida dan Taber (1974 : 33-44), ada 3 tahap dalam proses penerjemahan yakni :

1.                  Analisis (bentuk dan isinya)

2.                  Pengalihan (transfer) atau mengganti unsur Bsu dengan Bsa

3.                  Penyerasian (restructuring)

(2.1)  Analisis

Dalam hal ini yaitu  Mempelajari teks Bsu baik isi maupun bentuknya dengan memperhatikan hal-hal berikut ini :

1. Tata bahasa Bsu dicocokan dengan padanannya dengan Bsa.

2. menganalisis makna antar kata dan hubungan kata, dan analisis makna kata dan gabungan kata  tersebut, baik makna asli, kias, maupun nilai kata itu sendiri.

Menurut Khalusi  (1996) penerjemahan dari relasi makna diklasifikasikan berdasarkan kajian “semantik /’ilmu Ad-dilalah”.  Tujuan dari analisis ini  adalah :

– Untuk mengetahui maksud tulisan pengarang ( apakah narasi, eksposisi dan sebagainya)

– Untuk mengetahui bagaimana penulis menyampaikan maksud tersebut (misal, menggunakan kalimat ajakan/tegas/fakta/denotatif/konotatif)

– Untuk mengetahui bagaimana dalam pemilihan kata, frase, dan kalimat.

Jadi, berdasarkan hal diatas dapat kita simpulkan bahwa  tujuan dari analisis adalah  penerjemah benar-benar memahami maksud yang terkandung dalam teks bahasa sumber (Tsu).

(2.2) Pengalihan

Pengalihan yang dimaksud dalam hal ini yaitu pengalihan dari Bahasa sumber kedalam Bahasa Sasaran (Dari Bsu ke Bsa) dengan  mempertahankan maksud yang ingin disampaikan pengarang berdasarkan Bsu.

(2.3) Penyerasian

Menyesuaikan bahasanya (dari Bsu ke Bsa) yang terkesan masih kurang berterima, untuk disesuaikan dengan bahasa sasaran (Bsa)

(2.4) Metode Penerjemahan

Ada dua metode dalam penerjemahan yaitu penerjemahan  harfiah dan bebas. Metode penerjemahan menurut Newmark (1988 : 45) digambarkan berdasarkan diagram berikut :

SL. Emphasis                                                                                                            TL. Emphasis

Word- for- word translation                                                                         Adaptation

Literal translation                                                                  Fee translation

Faithful translation                                               Idiomatic  translation

Semantic  translation                         Communicative translation

(New Mark, 1988:45)

SL = Bsu                                                                                                       TL = Bsa

1.)                Penerjemahan kata demi kata (Word For Word Translation)

Penerjemahan kata demi kata dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut ini :

–           Urutan kata teks Bsu tetap dipertahankan.

–          Diterjemahkan dengan makna dasar bukan kontekstual.

–          Kata bersifat kultural dipindahkan apa adanya.

Contoh :

(Shalat Ali di mesjid)

 

(Menulis Muhammad pelajaran)

 

(Pergi Miqdad ke universitas)

 

2.)                Penerjemahan Harfiah (Literal Translation)

Yaitu Bahasa Sumber (Bsu)  dicarikan padanannya dengan Bahasa sasaran (Bsa).

Contoh :

(Muhammad membahas tentang ayahnya)

 

(Mahasiswa berdiri di seminar bahasa)

 

(Arif keluar pada ihsan)

Dari 3 contoh di atas, secara makna, Bahasa sasaran hasil penerjemahan masih terlihat kurang sepadan , untuk itu perlu penyesuaian makna,  seperti pada contoh :                                              , yang artinya “mahasiswa mengadakan seminar bahasa’

3.)    Penerjemahan Setia (Faithful Translation)

Yaitu, Menghasilkan kembali makna kontekstual yang masih dibatasi oleh struktur gramatikal Bsu.

Contoh :

Ben is too well aware that he is naughty (Ben menyadari terlalu baik bahwa ia nakal).

Contoh diatas akan lebih diterima secara makan kalau diserasikan lagi dengan kaidah Teks sasaran (Tsa), sehingga  makna yang lebih serasi menjadi ‘ben sangat sadar bahwa ia sangat nakal’. Berikut ini adalah contoh dalam bahasa arab :

a.

/yabhatsu muhammad ‘an abi:hi/

‘mencari Muhammad ayahnya’

b.

/‘qa:ma ath-thulla:bu bi nadwati al-lughatil/

‘mengadakan mahasiswa seminar bahasa’

c.

/kharaja ‘a:rif ‘ala: ihsa;n/

berkelahi Arief kepada Ihsan’

4.)                Penerjemahan Semantis (Semantic Translation)

Penerjemahan semantis ini harus lebih memperhatikan unsur estetika (antara lain : keindahan bunyi) dalam teks Bsu

Contoh : ‘He is a book worm =  ‘dia (laki-laki) adalah orang yang suka sekali membaca’. Terjemahan tersebut bersifat fungsional (mudah dimengerti) atau pada contoh kalimat berikut :

(                                                                      )

/husni muba;rak huwa rajulu al-‘a ‘mai;li/

‘Husni Mubarak adalah seorang pekerja

(                                                                      )

/fa:thimatu hiya ‘imraatu al-hadi:diyyati/

‘fatimah adalah seorang wanita yang tangguh’

5.)             Saduran (Adaption)

Metode ini biasa dipakai dalam penerjemahan drama atau puisi.  tema, karakter, dan plot tetap  dipertahankan, namun dalam proses  penerjemahannya terjadi peralihan budaya Bsu ke budaya Bsa serta ditulis kembali teks aslinya dan diadaptasikan kedalam Bsa.

6.)             Penerjemahan Bebas (Free Translation)

Metode ini lebih mengutamakan isi dan menyampingkan bentuk teks Bsu. Metode ini lebih banyak  dipakai oleh kalangan media massa, mereka menyebutnya metode oplosan (Suharno,1990). Berikut ini contoh yang menunjukkan penerjemahan judul berita secara bebas,

Bsu: (Time. May 28, 1990): Hollywood Rage for Remakes.

Bsa: (Suara Merdeka, 15 Juli 1990) Hollywood Kekurangan Cerita Lantas Rame-Rame Bikin Film Ulang.

Penjelasan diatas dapat diketahui bahwa versi Teks Sasaran (Tsa) lebih banyak dari pada versi Teks sumber /Tsu (Suharno, 1990).

7.)                Penerjemahan Idiomatik (Idiomatic Translation)

Tujuannya untuk mereproduksi pesan dalam Bsu, tetapi lebih sering menggunakan kesan keakraban dan ungkapan idiomatik yang tidak terdapat dalam versi aslinya.

Contohnya :

 

(                                              )

/shaba;hu al-khair/

‘selamat pagi’,  arti secara lughawinya “Pagi yang baik”

(                                              )

/ma’a sala:matu/

‘sampai jumpa’, arti secara Lughawinya “beserta keselamatan”

(                                                                                       )

/’anta ta’kulu tu,u:r wa ‘arjamu bi an-nawa:/

Secara Lughawi berarti “kau yang makan kurma, aku yang kena rajamnya”, disesuaikan secara idiomatic menjadi   ‘kau yang makan nangka, aku yang kena getahnya’.

8.)                Penerjemahan Komunikatif (Communicative Translation)

Isi dan bahasanya dapat diterima dan dipahami oleh dunia pembaca Bsa karena metode ini berusaha menyampaikan makna kontekstual dari Bsu sedemikian rupa. Metode ini memperhatikan prinsip-prinsip komunikasi yaitu khalayak pembaca dan tujuan penerjemahan.

Contohnya :

(                                              )

/hubbu al-‘ummu la:yamu:tu ‘abadan/

‘kasih ibu sepanjang jalan’

(                                              )

/laa ‘ila;ha ‘illa Allah/

‘hanya Allah-lah tuhan itu’

Berdasarkan uraian beberapa metode di atas,  terdapat metode (4) dan (8) saja yang memenuhi tujuan utama penerjemahan yaitu ketepatan dan efesiensi suatu teks. Metode (4) banyak digunakan dalam penerjemahan teks yang ekspresif, sedangkan metode (8) banyak  digunakan dalam  teks informatif atau vokatif.

3. Prosedur Penerjemahan

Perbedaan mendasar antara Metode dan Prosedur Penerjemahan yakni Metode penerjemahan berhubungan dengan keseluruhan teks, sedangkan prosedur penerjemahan berlaku untuk kalimat dan satuan-satuan bahasa yang lebih kecil seperti klausa, frase, dan kata.

3.1 Transposisi

Tranposisi  yaitu Pengubahan bentuk gramatikal Bsu ke Bsa (Machali, 2000:62:63). Ada empat jenis transposisi yaitu sebagai berikut :

(1). Transposisi Wajib dan otomatis tranposisi ini terjadi  disebabkan oleh  sistem kaidah bahasa.

Contoh : nomina jamak dalam bahasa Indonesia menjadi nomina tunggal dalam bahasa inggris

–          a pair of glasses = ‘sebuah kacamata’

–          a pair of scissors = ‘sebuah gunting’

Contoh dalam bahasa arab :

(                                                                                   )

/al-qaumu hum ya ‘i:syu:na fi al-jazi:rati al-‘arabiyyati/

‘kaum tersebut tinggal di Arab’

Secara leksikal, kata                      /al-qaum/ mempunyai  makna tunggal ‘kaum’, akan tetapi dalam kalimat diatas kata                 /al-qaum/ dimaknai jamak meskipun Kata ‘kaum’ sendiri  sebenarnya memiliki bentuk  jamak yaitu                            /al-‘aqwa:m/.

Contoh dalam  ayat-ayat Al-Qur’an sebagai  berikut:

(                                                                                        )

/la:yattakhidzu al-mu’minu:na al-ka:firi:na ‘auliya:’a min du:ni al-mu’mini;n/

‘Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min’.(Ali ‘Imran:28)

(                                                                                        )

/wa ‘a:tu: al-yata:ma: ‘amwa:lahum/

‘Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh)harta mereka’. (An-Nisa:2)

(                                                                                        )

/wa ‘a:tu an-nisa: ‘shadiqa:tihinna nihlatan/

‘Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan’. (An-Nisa:4)

Contoh diatas mentransposisikan Teks sumber (Tsu) yang berbentuk jamak ke bentuk tunggal dalam teks sasaran (Tsa)  yaitu                     /’auliya:’/,                          /’amwa:luhum/, dan                              /shadiqatihinna/  ditransposisikan  menjadi  ‘wali, ‘harta’, dan ‘maskawin’  yang berbentuk tunggal.

Selain contoh diatas , ada juga contoh transposisi wajib dalam bentuk kata kerja yaitu :

‘Pergi!’ =                             /idzhab!/, tetapi ‘jangan pergi’ =                               /la:tadzhab!/  ( bukan ‘La: idzhab’ jika dianalogikan dalam bahasa Indonesianya).

2.)                Jenis Transposisi kedua yaitu  jika suatu struktur gramatikal dalam Bsu tidak ada dalam Bsa, contohnya :

–                      Peletakan objek di depan dalam bahasa Indonesia yang  tidak ada dalam konsep struktur gramatika  bahasa Inggris , seperti kalimat :

‘Buku itu harus kita bawa’ = ‘we must bring the book’

–                      Peletakan verb/kata kerja di depan dalam bahasa Indonesia yang  tidak lazim dalam struktur gramatika bahasa inggris, kecuali dalam kalimat imperatif. Contohnya :

‘Berbeda penjelasannya’  = ‘ the explanation differs’.

3.)                Jenis Tranposisi ketiga yaitu terjadi apabila suatu ungkapan dalam Bsu dapat diterjemahkan secara harfiah kedalam Bsa melalui cara gramatikal, namun bentuk  padanannya terlihat  kaku dalam Bsa. Contohnya :

–                      Nomina/frase nominal dalam Bsu menjadi verba dalam Bsa, contoh dalam bentuk frase :

(                                         ) /’ana:dza:hibun/= ‘saya pergi’

4.)   Transposisi jenis keempat yaitu tranposisi untuk mengisi kesenjangan leksikal (termasuk perangkat gramatikal yang mempunyai fungsi tekstual/melengkapi makna kata , seperti /-lah/, /-pun/). Contoh dari kata menjadi frase :

–                      Interchageability = ‘keadaan dapat saling dipertukarkan’

–                      (                       ) /al-futhu;r/ = ‘sarapan pagi

–                      (                                   ) / naha:ruka sa’i:dun/= ‘selamat siang’

–                      (                                   ) / rija: [u al-‘a’ma:li/ = ‘pengusaha’

3.2 Modulasi

Menurut newmark modulasi adalah prosedur penerjemahan yang menyangkut pencarian padanan dan pengaturan variasi  dengan cara pengaturan dan pengubahan sudut pandang, perspektif, segi maknawi lain atapun perubahan kategori pemikiran. Modulasi dalam hal ini terbagi menjadi dua, yaitu modulasi wajib dan modulasi bebas .

–                   Modulasi wajib yaitu modulasi yang dilakukan jika suatu kata, frasa, ataupun struktur tidak ada makna yang sepadan dengan Bsa sehingga hal ini perlu dimunculkan.  Berikut ini adalah contoh modulasi wajib dalam bahasa arab, yaitu  Struktur aktif dalam Bsu menjadi pasif dalam Bsa dan sebaliknya, seperti :

/al-kalbu dharabahu ahmad / = anjing itu dipukul oleh ahmad

/ fa asha:bahum sayyia:tu ma: ‘amilu: / = maka mereka ditimpa oleh (akibat) kejahatan perbuatan mereka (Q.S An-Nahl : 34)

Dari kedua contoh diatas terlihat jelas pengubahan konstruksi aktif menjadi pasif, seperti kata

dimodulasikan menjadi pasif , yakni ‘dipukul’

–                   Modulasi bebas yaitu prosedur penerjemahan karena alasan Non-linguistik  seperti untuk memperjelas makna,  menimbulakn kesetalian dalam bahasa serta mencari padanan yang terlihat otentik kedalam Bsa, contohnya :

‘Environmental degradation = ‘ penurunan mutu lingkungan’ contoh ini menyatakan secara tersurat dalam Bsa terhadap apa yang tersirat dalam Bsu

Adapun selain Modulasi yang dijelaskan diatas, ada pula modulasi di bidang idiomatic, seperti contoh dalam peribahasa bahasa arab berikut :

 

/ anta ta’kulu tumu:ra wa urjamu bi an-nawa: /

‘kau yang makan nangka , aku yang kena getahnya’

3.3 Pemadanan berkonteks

Pemberian konteks atau contextual conditioning adalah penempatan suatu informasi dalam konteks agar maknanya jelas bagi penerima informasi atau berita (Nida, 1982 :109).  Berikut ini adalah contoh yang menunjukan bahwa kegiatan penerjemahan perlu memperhatikan makna secara kontekstualnya :

–                   Ungkapan ‘ selamat malam’ tidak selalu diterjemahkan ‘goo night’. Padananya dalam bahasa inggris jika pengucapannya diawal pertemuan maka digunakan ‘good evening’ namun jika diakhir pertemuan/ ketika akan berpisah maka padanannya menggunakan ‘good night’.

–                      Contoh ungkapan dalam bahasa arab seperti                                 / fi: ama:nillah / yang arti secara lughawinya yaitu ‘ Dalam perlindungan Allah’,  namun diterjemahkan menjadi ‘Sampai jumpa’. Contoh lain, frase ‘Sholat Shubuh’ dalam bahasa Indonesia berbeda halnya dengan istilah  di arab, yaitu dikenal dengan sebutan                                / Shala:tu Al-Fajri / , kata                          /Rabbatun / jika di idhafatkan dengan kata                     /al-baitu / menjadi                                      / Rabbatu Al- baiti / maknanya berubah menjadi  ‘Ibu Rumah Tangga’.

3.4 Pemadanan Bercatatan

Prosedur ini dilakukan jika pprosedur-prosedur diatas seperti tranposisi, modulasi, pemadanan, ataupun adaptasi telah dilakukan, namun tetap tidak membuahkan makna yang diharapkan. Sebagai contoh  Kata ‘sarung’ dalam bahasa Indonesia, kata tersebut langsung digunakan dalam Bsa dengan diberikan penjelasan berupa catatan kaki (Note Fote) maupun catatan akhir.

3.5 Bahasa Jurnalistik Pers

Salah satu Fungsi Bahasa yaitu fungsi Informatif  yang merupakan fungsi utama dan mendasar, inti dalam fungsi ini yaitu situasi eksternal, yakni ungkapan disampaikan berdasarkan fakta dan realita suatu topik ataupun diluar realita bahasa. Teks jenis ini biasanya menggunakan gaya bahasa yang kontemporer, non-regional, non-kelas yang cenderung lebih akrab. Begitupun halnya didalam dunia jurnalistik, dengan kalimatnya yang pendek-pendek dan tanda baca yang tidak lazim (non-konvensional). Kebanyakn teks jenis informative ini ditulis hanya untuk mengejar waktu, atau secara sudut pandang kebahasaan disebut “asal jadi’ sehingga penerjemahanpun perlu menyesuaikan dan membetulkan kalimat-kalimatnya sebelum diterjemahkan secara utuh.

Adapun ciri-ciri bahas jurnalistik yang tepat adalah harus mengandung unsur-unsur : sederhana, singkat, padat, lugas, jelas, jernih, menarik, demokratis, populis, logis, gramatikal, menghindari kata tutur, pilihan kata (diksi) yang tepat, mengutamakan kalimat aktif, menghindari kata atau istilah teknis, serta tunduk kepada kaidah dan etika bahasa baku

 

 

 

 

 

 

Laporan Membaca

Judul Skripsi

‘Tinjauan Sintak-Semantik Buletin Al-Arkhabi:L ‘

( LIPIA Jakarta)

Karya : Vanda Risky, S.Hum

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s