BISNIS


JAKARTA: Sedikitnya empat perusahaan asing bersaing memperebutkan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Pemalang, Jawa Tengah, senilai US$2,57 miliar. Megaproyek berkapasitas 10.000 MW tahap I, PLTU Labuan II, merupakan proyek pembangkit terbesar, berkapasitas 1.590 MW. Khusus PLTU Pemalang, kapasitas listrik yang dihasilkan mencapai 2.000 MW. Direktur Perencanaan dan Teknologi PT PLN Bambang Praptono mengatakan proyek PLTU di Pemalang itu masuk dalam skema megaproyek 10.000 MW tahap II.  

“Sejak akhir Desember, kami mengundang investor yang berminat masuk di proyek tersebut. Pendaftaran sudah ditutup hari ini [kemarin],” ujarnya kemarin.

Langkah selanjutnya, tambah Bambang, PT PLN akan mengundang perusahaan yang masuk daftar peminat tender untuk memberikan informasi mengenai proyek itu. “Bulan depan, kami jadwalkan tender terbuka.”

Keempat perusahaan asing yang berminat terhadap proyek itu adalah Siemens Jerman. Perusahaan itu memiliki keunggulan dalam teknologi gas turbin untuk kelistrikan.

Di Indonesia, perusahaan itu juga terlibat dalam pengoperasian dan perawatan dua pembangkit, yaitu PLTU Paiton II dan PLTU Muara Tawar.

Selanjutnya, WTL Malaysia. Perusahaan itu menggarap proyek PLTU Minahasa berkapasitas 2×50 MW bekerja sama dengan PT Minahasa Power, Marubeni Jepang (membangun PLTU Cirebon), Areva Prancis (menguasai teknologi PLTN), Huadian Energy Co China (membangun PLTU Tanjung Kasam Batam), dan China Datang Corp China.

Menurut Bambang, pembangunan proyek itu diharapkan selesai pada 2014. Proyek itu menggunakan skema Independent Power Producer (IPP) generasi III.

Perbedaan kontrak IPP generasi III dengan kontrak sebelumnya adalah memiliki payung hukum, berupa Peraturan Presiden No. 67/2005 tentang infrastruktur. “Proyek ini mendapatkan jaminan pemerintah.”

Menurut Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan, Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Emi Perdanahari, pemerintah terus mengundang investor, baik asing maupun domestik, untuk memanfaatkan peluang pembangunan infrastruktur kelistrikan.

Bahkan, lanjutnya, pemerintah akan meneruskan proyek pembangkit tahap II setelah megaproyek berkapasitas 10.000 MW itu tuntas. “Skema tahap II masih sama dengan tahap I, konsentrasi pembangkit berada di Jawa.”

.cat { font-weight: bold; font-size: 14px; color: #003399; font-family: Arial, helvetica, sans-serif} .judul1 { font-weight: bold; font-size: 11px; color: #FFFFFF; font-family: Arial, helvetica, sans-serif; text-align: center} .isi { font-weight: bold; font-size: 11px; font-family: Arial, helvetica, sans-serif; vertical-align: top} .isi1 { font-weight: bold; font-size: 11px; font-family: Arial, helvetica, sans-serif; text-align: right} .isiq { font-weight: bold; font-size: 11px; font-family: Arial, helvetica, sans-serif; text-align: center; vertical-align: top} .judula { font-weight: bold; font-size: 11px; color: #000000; font-family: Arial, helvetica, sans-serif; text-align: center}

Situasi Umum Ketenagalistrikan di Indonesia
Total pembangkit listrik terpasang 29.885 MW
Rata-rata pertumbuhan penjualan per tahun (2002-2007) 6,8%
Kapasitas pembangkit cukup untuk tumbuh 1.9%
Proyeksi permintaan listrik hingga 2027 9,2% /tahun
Penggunaan BBM dari total energi primer 34%
Biaya operasi pembangkit via BBM 78%
Kebutuhan pembangkit (MW)
Kebutuhan tambahan kapasitas hingga 2018 57.442
Kontribusi IPP (Independent Power Producer) 22.168
Kontribusi PLN 35.274
Kebutuhan pendanaan (US$ miliar)
Hingga 2018, instalansi PLN dan IPP 93,33
Kebutuhan dana untuk pembangkitan 56,9
Kebutuhan dana untuk transmisi 24,29
Kebutuhan dana untuk distribusi 12,14
Rencana tender pembangkit 10.000 MW tahap II
Total kapasitas pembangkit 11.144 MW
Target operasi pembangkit 2014

.cat { font-weight: bold; font-size: 14px; color: #003399; font-family: Arial, helvetica, sans-serif} .judul1 { font-weight: bold; font-size: 11px; color: #FFFFFF; font-family: Arial, helvetica, sans-serif; text-align: center} .isi { font-weight: bold; font-size: 11px; font-family: Arial, helvetica, sans-serif; vertical-align: top} .isi1 { font-weight: bold; font-size: 11px; font-family: Arial, helvetica, sans-serif; text-align: right} .isiq { font-weight: bold; font-size: 11px; font-family: Arial, helvetica, sans-serif; text-align: center; vertical-align: top} .judula { font-weight: bold; font-size: 11px; color: #000000; font-family: Arial, helvetica, sans-serif; text-align: center}

Komposisi energi primer pembangkit
PLTU (Batu bara) 5.000 MW 2.644 MW
PLTGU (BBM/Gas) 825 MW 240 MW
PLTP (Panas bumi) 1.145 MW 990 MW
PLTA (Air) 300 MW

Sumber: PLN, diolah

Data Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi menyebutkan kebutuhan investasi kelistrikan pada 2008-2027 mencapai US$208,7 miliar. Nilai itu berdasarkan rencana umum ketenaga listrikan nasional (RUKN) untuk 2008-2027 yang disahkan pada November 2008.

Pembangunan pembangkit paling banyak menyedot dana, yakni US$172,27 miliar. Dari total dana itu, pembangunan pembangkit di Jawa-Madura-Bali mencapai US$140,75 miliar. Khusus pembangunan transmisi dan distribusi, RUKN menetapkan kebutuhan dana mencapai masing-masing US$24,29 miliar dan US$12,14 miliar.

Di tempat terpisah, Wakil dirut PLN Rudiantara mengatakan ada beberapa skenario pendanaan pembangunan kelistrikan. Pertama, bisa menggunakan neraca PLN dengan cara apakah tambahan dana dari pemegang saham, pinjaman, atau menggunakan neraca orang luar, yakni IPP.

Optimalkan IPP

Namun, dengan kemampuan neraca PLN yang terbatas, ke depan mesti optimalkan IPP.

Menurut dia, PLN harus kreatif mencari sumber alternatif pendanaan yang tidak konvensional. Ini karena bila bersifat konvensional, hanya ada tiga sumber yang besar, yaitu Jepang, China, Timur Tengah.

Kedua, melalui cara nonkonvensional dan itu juga ada di tiga kawasan itu, yaitu menerbitkan obligasi di negara lain dengan mata uang setempat dikonversi ke valas, lalu masuk ke Indonesia.

“Bisa dilakukan swap. Kalau itu lebih murah, kenapa tidak. BUMN, termasuk PLN, tidak terbiasa dengan financial engineering.”

Tahun ini, PLN memproyeksikan pertumbuhan pendapatan 11,25% dari tahun lalu sebesar Rp80 triliun menjadi Rp89 triliun. Untuk laba usaha tahun ini, BUMN itu menargetkan Rp10,1 triliun, dari tahun lalu sebesar Rp3,2 triliun.

Target laba sebesar itu diharapkan bisa dicapai setelah PLN mulai melakukan diversifikasi energi dengan memperbesar persentase penggunaan gas. Sejauh ini perusahaan listrik itu lebih banyak menggunakan batu bara dan BBM.

Pada 2009, PLN membutuhkan belanja modal Rp57 triliun, yang akan dipakai untuk membangun transmisi dan pembangkit listrik.

Untuk membiayai kebutuhan pendanaan itu, perseroan akan menjajaki berbagai sumber, meliputi pinjaman bank dan penerbitan obligasi. PLN juga akan menerbitkan obligasi mencapai Rp10 triliun, dan akan dilepas secara bertahap. (Bambang P. Jatmiko) (rudi.ariffianto@bisnis.co.id/diena.lestari@bisnis.co.id/firman.hidranto@bisnis.co.id)

Oleh Rudi Ariffianto, Diena Lestari & Firman Hidranto
Bisnis Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s